| Perubahan Sebagai Suatu Keniscayaan Dalam Menghadapi Tantangan Masa Depan |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Wednesday, 16 August 2006 | |
|
Oleh : Syamsul Amar* Abad 21 merupakan abad perubahan pada berbagai aspek kehidupan manusia baik pada tataran individual, institusi maupun masyarakat Menurut Clark (1999) perubahan merupakan suatu konstanta percepatan yang mengandung dilema mendasar. Perubahan tersebut meliputi politik, ekonomi, sosial budaya, persepsi terhadap lingkungan , teknologi dan pendidikan . Pada sektor bisnis perubahan terjadi sangat cepat sekali yang mulanya perubahan tersebut jelas dan bisa diduga (clear enough future) tetapi sekarang perubahan tersebut bersifat ambigius (true ambiquity). Oleh karena itu para business decision maker harus cepat dalam menanggapi setiap perubahan jika ingin tetap bertahan dalam menguasai pasar ibarat sebagai seorang pemain tenis yang berdiri di garis belakang yang siap untuk mengejar kemanapun arah bola pergi. Di sisi lain perubahan memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri, tetapi sepertinya saat ini waktu tidak ada untuk itu. Kekurang cermatan dalam mengantisipasi perubahan telah berdampak langsung terhadap penurunan rata-rata umur perusahaan di Jepang seiring dengan semakin pendeknya daur hidup produk (product lifecycle). Demikian pula perubahan yang terjadi pada sektor publik meskipun dalam tensi yang lebih rendah, di Amerika Serikat sajak tahun 1990 an telah terjadinya perubahan paradigma manajemen sektor publik kearah yang lebih profesional sebagai dampak dari perubahan mind frame pejabat publik dari birokrat menjadi government entrepreneurship (Osborn:1995). Pada sektor bisnis contohnya pada tahun 1987 – 1992 industri komputer telah mengalami perubahan yang luar biasa sebagai mana ditandai oleh kemampuan komputer yang semakin canggih tetapi dengan ukuran yang semakin kecil dan fleksibel dan diikuti oleh peningkatan permintaan sebagai akibat dari peningkatan minat terhadap computer. IBM dan Conpaq dua industri komputer dunia yang cukup terkenal tetapi mengalami kegagalan dalam mempertahankan posisinya di tengah perubahan pasar dan teknologi yang semakin cepat. Di sisi lain indutri kumputer Hewlet Packard telah berhasil dalam meniti buih perubahan dengan melakukan perubahan paradigma perusahaan. Dengan melakukan perubahan tersebut Hewlet Packard pada tahun 2000 mampu memasarkan 125 ribu laser jet setiap minggu dan mendistribusikan melalui mail order ke seluruh pelosok dunia. Kasus lain bagaimana Canon mencermati perubahan melalui diversifikasi mesin foto copynya dari produk yang berukuran besar, mahal , kotor dan diletakan di basement menjadi mesin foto copy yang kecil, murah berwarna pastel dan diletakan di ruang sekretaris. Dua rahasia sukses HP yang perlu kita simak yakni : Pertama memperlakukan perubahan sebagi sesuatu yang tak terelakan dan tidak mencoba menolaknya (resistence); Kedua Bersiap-siap untuk beralih 45 derjat ketika melihat perubahan sebagai suatu kesempatan. Sangat berbeda dengan strategi yang dilakukan oleh IBM pada saat perubahan datang John Akers sebagai CEO IBM pada saat itu diibaratkan memakai helem dengan palu ditangun yang siap menghadang setiap musuh yang datang pada hal sebuah bola besi berayun dari arah belakang yang siap untuk menghantamnya . Dari fenomena tersebut ternyata ada tiga kelemahan yang dimiliki oleh IBM antara lain : (1) struktur perusahaan telah terlalu gemuk, (2) tidak percaya bahwa dunia dan aturannya akan mengalami perubahan dan (3) tidak memperhatikan konsumen. Keluhan pelanggan bukan jangan dianggap sebagai kritikan tetapi harus dianggap sebagai peluang untuk melaukan perubahan. Di sisi lain perusahaan harus memosisikan pelanggan sebagai raja seperti yang unggkap oleh pakar marketing The costumers is king and the custumers is always righ. Pengalaman dua perusahaan besar tersebut mestinya dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengarungi arus perubahan yang semakin kuat dan cepat itu dalam berbagai level (individu, institusi dan juga bangsa yang kita cintai ini). Terus terang saja, kita akui bahwa , perubahan itu teramat berat karena perubahan itu kadang-kadang mengharuskan kita membiarkan pergi kekuasaan yang kita miliki, membiarkan pergi kebijakan masa lalu yang telah mendatangkan kesuksesan, membiarkan pergi peran-peran indah yang biasa kita lakukan. Namun keikhlasan membiarkan pergi sesuatu merupakan pilar utama dalam memulai suatu perubahan. Bukankah dalam Alquran Tuhan telah menyatakan bahwa Tuhan tidak akan memperbaiki nasib suatu kaum jika kalau bukan ia sendiri yang memperbaikinya. |
| Next > |
|---|








